Di sela rehat mengerjakan skripsi di Masjid Fastabitul Khaerat di dekat rumah, saya menyaksikan adik-adik TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang sedang asyik bermain sembari menunggu waktu shalat ashar. Mereka tertawa lepas, ada yang berteriak, ada yang kejar-kejaran, ada yang menarik kaos temannya, ada juga yang duduk bergerombol bercerita dengan kawan-kawannya. Sampai kemudian semuanya, tanpa komando, duduk diam ketika Pak Ustadz datang. Ya, mereka mengingatkan saya ketika masih seumuran mereka.

Kalau dihitung-hitung, saya mengenyam pendidikan TPA selama 11 tahun. Yang awalnya di rumah Ust. Bahar (guru mengaji saya dulu), sampai pindah ke Masjid Fastabiqul dan terlembaga menjadi TPA. Dimulai ketika kelas 2 SD saya baru pindah ke Mamuju, sampai lulus SMA sebelum akhirnya hijrah ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Saya mulai belajar dari Iqra’ 1, membaca Al-Qur’an, sampai menjadi pengajar. Beberapa pengajar saat ini yang dulu sempat saya ajar, sangat antusias ketika bertemu saya di Masjid menjelang shalat maghrib beberapa hari setelah Idul Fitri. Salah satunya berkata, “Bulan puasa kemarin berharap Kak Ferdi datang buka puasa bersama di Masjid.” saya adalah salah satu jama’ah yang paling rajin ikut buka puasa di masjid, juga sejak SD sampai SMA.

Melihat bagaimana asyiknya mereka bermain di Masjid setelah belajar mengaji (istilah yang umum dipakai baik bagi yang belajar Iqra’ maupun Al-Qur’an di TPA), menumbuhkan harapan saya agar kedepannya mereka semakin kuat ikatan psikologis, sosiologi, serta intelektual dengan Masjid sampai dewasa nanti.

BACA JUGA :  Resiliensi Organisasi dan Nafas Perkaderan IMM (Bagian 2)

Hanya saja akhir-akhir ini, saya memperhatikan anak-anak TPA di Masjid dekat rumah saya hanya terdiri dari anak-anak SD. Berbeda dengan teman-teman mengaji angkatan saya dulu yang tidak sedikit sudah SMP dan SMA. Rentang umur dan tingkat pendidikan formal yang relatif menurun ini harus segera dicarikan solusi. Agar kegiatan belajar anak-anak di Masjid tidak berhenti ketika mereka remaja.

Tentu fenomena TPA di masjid dekat rumah saya ini tidak bisa menjadi cerminan kondisi semua masjid di Mamuju, apalagi di Indonesia. Banyak juga masjid yang para pemudanya aktif di Remaja Masjid. Suasana, interaksi, orientasi, serta kegiatan-kegiatannya pun berbeda ketika mereka masih TPA.

Kembali melihat adik-adik TPA yang berjejer rebahan di samping kiri saya ketika mengetik tulisan ini, saya berharap ikatan mereka dengan masjid bisa bertahan lama. Mereka tidak harus di TPA sampai 11 tahun seperti saya tentunya.

Ini adalah tantangan bagi para takmir masjid dalam menyusun program-program pendidikan yang berkelanjutan. Dengan adanya TPA sebagai pintu pertama interaksi mereka dengan masjid, perlu disiapkan jenjang pendidikan selanjutnya ketika mereka remaja. Dan program pendidikan ini harus tersedia juga sampai di jenjang dewasa. Semua jenjang ini harus berkelanjutan, tidak terputus-putus. Karena dengan begitu masjid lembaga yang paling berpotensi untuk melaksanakan pendidikan seumur hidup bagi manusia, dapat terlaksana secara maksimal.

Anak-anak TPA lah yang diharapkan kelak dapat mengisi saf-saf shalat dan berbagai majelis di Masjid beberapa tahun yang akan datang. Dan dari masjid lah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dapat terwujud. Wallahu a’lam.

Mamuju, 11 Mei 2022.
Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri
Jama’ah Masjid Fastabiqul Khaerat Mamuju
Editor : Hikari (LPMTI)

Master Kalender Muhammadiyah 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here