IMMsukoharjo.com, SukoharjoDalam pembukaan Musycab XXVI Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo; adakan Stadium General dengan bertajuk “Resiliensi Kepemimpinan, Menyongsong Kemandirian”; dengan tiga narasumber; Sri Maryuni; Bambang Muryanto; dan Agus Widanarko.

Bambang, selaku pemateri yang membahas  pemimpin masa depan menjelaskan bahwa, generasi yang menduduki posisi saat ini adalah generasi milenial yang harus melek realitas yang ada saat ini. Sebagai generasi milenial banyak sekali peluang dalam menjalankan kelembagaan, baik untuk diri sendiri maupun lembaga itu sendiri.

“Dalam menjalankannya kita juga akan mendapatkan bantuan misalnya lewat kelembagaan; namun kita juga harus bersikap mandiri supaya banyak mampu melakukan amal baik; saya harapkan pemuda memiliki daya juang yang selalu gigih dan bertanggung jawab,” tuturnya Bambang.

***

Dengan kata lain, jika mengaitkannya dengan kepemimpinan, demokrasi di Indonesia masih sangat kurang. yang kita lihat demokrasi  di Indonesia dalam kondisi yang baik-baik saja. Namun, masalah politik masih belum selesai. Sebagai kader Muhammadiyah harus mampu menentukan hak dan kewajibannya untuk membangun kepemimpinan di masa yang akan datang.

”Politik yang ada saat ini termasuk dalam urusan dunia. landasan dalam bermuhammadiyah juga sudah dicantumkan dalam ayat Al-Qur’an. ketika kita berlomba-lomba dengan dunia jangan pernah melupakan akhirat, karena keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat itu perlu dijaga,” Ungkapnya.

Dalam berdemokrasi, banyak anak muda pada zaman sekarang yang melek terhadap realitas politik. bisa dilihat seperti melakukan demo sebagai bentuk menyuarakan pendapat. Namun, sekarang zaman digitalisasi yang menyuarakan aspirasi bisa melalui sosial media yang ada.

”Kita sebagai pemuda yang berpendidikan harus ikut membantu dan menyadarkan masyarakat supaya melek akan realitas politik. karena banyak dari rakyat saat ini kurang dalam memaknai politik, masih banyak yang bermain dengan money politik. oleh karena itu tugas kita tidak boleh menutup hubungan, karena komunikasi dan wawasan penting untuk masa depan. dengan kata lain, bermacam-macam kelompok organisasi adalah unsur pembentuk negara, dengan itu dalam berdemokrasi harus menghargai perbedaan, ” sambungnya.

***

Agus, sebagai pemateri terakhir menjelaskan terkait bahaya kenakalan remaja dan HIV AIDS. Sebagai penyuluh dan motivator BNN, beliau menjelaskan bahwa anak muda di zaman sekarang sangat mudah kecanduan narkoba maupun minum-minuman keras. Sehingga, di Indonesia bahaya terkait narkoba menjadi paling tinggi dan yang mudah kecanduan yaitu remaja. Mirisnya, banyak remaja yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Namun, nyatanya itu juga mampu menurunkan kondisi kesehatan.

“Sebagai penyuluh BNN, saya juga memiliki masa lalu yang kelam terkait minuman keras dan narkoba. dulu saya sering mengajak orang supaya datang ke klub untuk mencoba narkoba dan minuman keras. Namun, sekarang saya sadar dan bergabung dengan penyuluhan BNN untuk memberhentikan penggunaan narkoba dan minuman keras. sebagai generasi milenial jangan mudah terpengaruh dengan omongan orang lain terkait narkoba dan minuman keras. karena hal yang kita anggap biasa saja akan berdampak buruk,” Tutup Agus.

 

Reporter : Lina  (LPMTI)                                                Editor : Auliya

 

 

Master Kalender Muhammadiyah 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here