IMM di Era New Normal

Konsep new normal (baca: kenormalan baru) dihembuskan pemerintah sejak awal Covid-19 menyerbak di Indonesia. Dikutip dari kompas.com, pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (sekarang : Satuan Tugas) mengumumkan bahwa kenormalan baru/perubahan perilaku harus mulai dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, perubahan perilaku sesuai dengan protokol kesehatan yang pemerintah maksudkan di awal tahun 2020 mulai direalisasikan. Melalui regulasi PSBB maupun PPKM, mulai terdapat kelonggaran-kelonggaran kegiatan, meskipun dengan kondisi yang terbatas. Fenomena pembubaran kegiatan kerumunan masa, semakin ke sini juga semakin sedikit; bahkan bisa dikatakan hampir sudah tidak ada lagi–tidak seramai dulu. Meskipun tidak bisa kita tampik bahwa sektor pendidikan, termasuk pendidikan tinggi belum lama diperbolehkan pembelajaran secara tatap muka terbatas.

Celah kegiatan pembelajaran tatap muka yang sudah mulai diterapkan beberapa perguruan ini, bisa dimanfaatkan oleh para pimpinan sebagai epic comeback aktifitas ber-IMM. Sebagian kader penulis kira, khususnya yang dari luar daerah kampus, sudah kembali lagi untuk mempersiapkan diri mengikuti perkuliahan tatap muka.

Selain pemulihan aktifitas ber-IMM pada situasi normal, pasca pembatasan ini, pandemi kemarin perlu menjadi catatan bagi para pimpinan khususnya pada upaya-upaya memberikan kritik bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan. Masih ingkatkan kita dengan pengesahan UU Minerba di tengah pandemi kemarin? Atau kebijakan-kebijakan lain berkaitan dengan penanganan Covid-19 yang juga pemerintah keluarkan. Hampir sebagian di antara para pimpinan, menutup mata untuk mengadvokasi kebijakan-kebijakan strategis sebagaimana penulis sampaikan di atas.

Maka, era kenormalan baru ini merupakan momentum yang sangat baik, untuk mengembalikan aktifitas ber-IMM dan ruh organisasi, sebagaimana sebelum pandemi.

Secerca Harapan : Digitalisasi Perkaderan dan Organisasi

Sebagaimana penulis sampaikan di atas, bahwasanya sejak awal pandemi, para pimpinan telah mengupayakan berbagai hal untuk menjaga keberlangsungan dan stabilitas organisasi.

Berdasarkan survey yang penulis lakukan pada Bulan September 2021 tentang Tingkat Resiliensi Organisasi dan Perkaderan di Masa Pandemi dengan 110 responden kader IMM di seluruh Indonesia, memberikan beberapa kesimpulan, di antaranya : 96 responden (87%) menyatakan pandemi Covid-19 berpengaruh pada tata laksana pimpinan ikatan dalam berorganisasi; 103 responden (94%) menyatakan aktivitas berorganisasi dan perkaderan berhenti ketika awal sampai dengan pertengahan pandemi; kemudian 27 responden (25%) menyatakan pimpinan mampu memberikan trobosan baru dengan skema digitalisasi organisasi dan perkaderan di akhir tahun 2020 hingga pertengahan 2021.

Dari kesimpulan survey di atas, dapat kita tarik benang merah tentang kegagapan pimpinan ikatan pada masing-masing tingkatan dalam menentukan arah gerak organisasi ketika Covid-19 mewabah di Indonesa. Namun, sebenarnya seiring berjalannya waktu, dengan inovasi dan kreatifitas, terdapat sebagian pimpinan yang mampu mencari jalan keluar dari kegagapan sebagaimana penulis sampaikan di atas.

Potensi digitalisasi organisasi dan perkaderan memili persentasi yang cukup baik, mengingat belum banyak organisasi gerakan mahasiswa lain yang bisa membuat trobosan-trobosan baru di tengah pandemi.

Berdasarkan edaran yang pernah dikeluarkan DPP IMM melalui bidang kader berikut SOPnya, sebenarnya terdapat peluang untuk memasifkan digitalisasi perkaderan; pun demikian dengan organisasi. Yang masih menjadi soal adalah konsep, alur dan metodologi yang akan digunakan di dalamnya.

*

Penulis akan sedikit memberikan pandangan sekaligus alternatif yang bisa para pimpinan pertimbangkan dalam ikhtiar melakukan digitalisasi organisasi dan perkaderan.

Pertama, digitalisasi organisasi. Digitalisasi yang penulis maksudkan berkaitan dengan fungsi komunikasi dan koordinasi kader dan pimpinan; serta pemanfaatan platform digital sebagai big data sebagaimana yang pernah Ketum DPP IMM, Najih Prastyo utarakan.

Sebenarnya, ketika sudah muncul kesadaran kader dam pimpinan, serta rasa nyaman dan tanggungjawab; bukan tidak mungkin komunikasi dan koordinasi diselenggarakan dengan media digital, seperti aplikasi pesan WA, dsb. Yang perlu dibangun adalah cadre trust and interest (kepercayaan dan ketertarikan kader) terhadap IMM wabil khusus para pimpinan. Sebagai contoh misalnya, PC IMM Bantul di awal-awal pandemi. Mereka membuat berbagai skema kegiatan berbasis kebutuhan dan ketertarikan kader, bukan keinginan mutlak pimpinan. Sehingga ketika dahulu penulis mengikuti forum-forum daring yang diselenggarakan PC IMM Bantul, pasti tidak sepi dari peminat. Meskipun, di akhir 2020, kader yang mengikuti kegiatan-kegiatan di atas mengalami penurunan. Maka, dibutuhkan inovasi, kreatifitas dan riset untuk merealisasikan program kerja dalam bentuk kegiatan-kegiatan berbasis digital.

Kemudian terkait dengan platform untuk keperluan big data, sebenarnya banyak sekali kader-kader yang berpotensi untuk membuat semacam aplikasi untuk mewadahi database kader IMM, baik dari tingkat komisariat bahkan tingkat DPP sekalipun. Yang menjadi soal adalah, siapa dan bagaimana para pimpinan mau memulai. Sebagai contoh PC IMM Sukoharjo Periode 2021 yang sedang merancang website ikatan (dalam proses pembuatan). Di dalam website yang dicanangkan, Bidang Media dan Komunikasi PC IMM Sukoharjo menyelipkan rubrik/menu berkaitan dengan organisasi, yang nantinya berisi data-data kader, tentu dengan keamanan yang sudah diukur. Dalam rencana pengembangannya pun, nantinya KTA; syahadah; daftar riwayat; dsb dapat kader proses melalui website, bahkan dapat diupdate sewaktu-waktu.

Baca artikel sebelumnya, Resiliensi Organisasi dan Nafas Perkaderan IMM (Bagian 1)

Kedua, digitalisasi perkaderan. Di awal sudah penulis paparkan terkait “hilangnya” kader–bahkan calon kader–ketika pandemi menyeruak. Hal ini jelas menghambat proses jalannya kaderisasi ikatan. Fenomena keterhambatan tersebut, kemudian direspon oleh para pimpinan dengan menyelenggarakan agenda perkaderan secara daring, walaupun ketika awal pandemi baru sebatas diskusi, dsb. Padahal, esensi dari kaderisasi ikatan, tidak hanya pada ranah kognitif; lebih dari itu yang tidak kalah pentingnya adalah ranah afektid dan psikomotorik kader.

Dengan adanya pandemi ini, sebenarnya membuka mata kita semua bahwa IMM sudah harus menyesuaikan diri dengan era baru, di mana para kader dan calon kader yang notabenenya didominasi oleh generasi yang lebih dekat dengan dunia digital.

Penyesuaian diri yang dilakukan oleh pimpinan sangat diperlukan. Sebagai contoh PC IMM Sukoharjo. Sejak awal masa pandemi, para pimpinan, khususnya di Bidang Kader dan Korps Instruktur mencoba untuk melakukan trobosan dengan kegiatan Forum Diskusi Kader Sukoharjo (FKS), yang mana dalam pelaksanaannya penulis lihat para kader terlihat antusian untuk mengikuti kegiatan tesebut. Tema-tema menarik dengan narasumber yang tidak kalah sangar menjadi daya tarik tersendiri pada kegiatan FKS ini. Meskipun muncul sebuah pertanyaan di tengah pelaksanaannya. Apa tolak ukur ketercapaian kegiatan FKS?

Sebenarnya, muncul berbagai jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut. Meskipun jawaban-jawaban yang tersedia belum memiliki legitimasi yang kuat. Pernah suatu waktu pasca beberapa kali FKS dilaksanakan, penulis mencoba bertanya pada beberapa kader yang menjadi peserta FKS. Satu pertanyaan utama dari penulis kepada mereka, apa yang kalian dapatkan dari FKS? Dua kesimpulan dari jawaban mereka yang akan penulis highlight; pertama sebagian kader merasa terbantu untuk bisa melakukan diskusi interaktif dengan tokoh-tokoh yang diudang di FKS. Kedua, mereka merasa mendapatkan insight baru sesuai tema-tema yang diangat. Dan yang perlu dicamkan adalah, tidak mudah untuk beristiqomah dalam menyelenggarakan dan mengikuti secara aktif sebuah kegiatan daring di tengah mandegnya kegiatan ber-IMM.

*

Kemudian pada tataran perkaderan utama, penulis bersama kawan-kawan PC IMM Bogor mengikhtiarkan Darul Arqam Madya secara daring. Suatu trobosan yang tidak biasa saat itu, terlebih untuk perkaderan setingkat DAM. Saat itu muncul berbagai pertanyaan yang menyoal DAM Online ini, seperti : Bagaimana proses memantik critical thinking para peserta? Apakah DAM Online bisa memaksimalkan tujuan perkaderan itu sendiri? Bagamana proses transfer value dan uswah hasanah yang dilakukan instuktur?

Sebenarnya di awal penulis terlibat dalam penyiapan DAM ini, pertanyaan-pertanyaan tersebut juga muncul dan menjadi perdebatan di tengah para perangkat instruktur. Namun, dengan berbagai pertimbangan dan analisa yang instruktur lakukan, terbentuklah sistem yang kemudian menjadi ekosistem di dalam pelaksanaan kegiatan. Apakah kegiatan DAM Online itu kami (baca : instruktur) anggap sukses? Menurut analisa dan observasi penulis, pelaksanaan DAM Online tersebut cukup sukses, mengingat DAM ini adalah satu-satunya perkaderan utama yang diselenggarakan secara daring.

Lantas, apakah usaha digitalisasi perkaderan di atas sudah usai, terlebih pandemi “katanya” sudah akan menjadi endemi? Menurut hemat penulis, upaya digitalisasi perkaderan masih perlu dilanjutkan, bahkan dikembangkan dengan sistem dan metode yang lebih proporsional dengan situasi dan kondisi lingkungan serta kader.

Di akhir, penulis ingin menyampaikan bahwa sudah saatnya IMM melakukan reposisi arah dan gerakan, menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini. Jangan sampai, demi mengukuhkan ego sektoral para pimpinan, kader kemudian menjadi korban. Kalau itu terjadi, siapa yang berdosa? Menurut penulis, para pimpinan dan isntruktur lah yang berdosa. Maka, mari bersama-sama melakukan pembenahan. Konstelasi politik cukup berhenti saat perhelatan Musyawarah, setelahnya mari bergandengan tangan untuk membawa IMM lebih baik lagi. Nashrun minallah wa fathun qariib.

Penulis : Muhammad Taufiq Ulinuha (Sekum PC IMM Sukoharjo Periode 2021-2022)

Referensi

Arirahmanto, Sutam Bayu. 2018. Pengembangan Aplikasi Penurunan Kejenuhan Belajar Berbasis Android untuk Siswa SMPN 3 Babat. UNESA Surabaya.
Hidayat, Muhammad Yusuf. 2016. Pengaruh Slow Learner dan Kejenuhan Belajar terhadap Kesulitan Belajar Fisika Siswa MTs Madani Alauddin Kabupaten Gowa. UIN Alauddin Makassar. Vol. 5, No. 2, hal. 332-341.
Kompas.com (26 Mei 2020). Apa Itu New Normal? Presiden Jokowi Sebut Hidup Berdamai dengan Covid-19. Diakses pada tanggal 14 November 2021 dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/26/163200023/apa-itu-new-normal-presiden-jokowi-sebut-hidup-berdamai-dengan-covid-19?page=all
Gema.uhamka.ac.id (21 Mei 2021). Syok Intelektual di Masa Pandemi Covid 19, IMM Butuh Apa? Diakses pada tanggal 11 November 2021 dari https://gema.uhamka.ac.id/2021/05/21/syok-intelektual-di-masa-pandemi-covid-19-imm-butuh-apa/
Schaufeli dan Enzmann. 1998. The Burnout Companion to Study and Practice: A Critical Analysis. United Kingdom: CRC Press.

Master Kalender Muhammadiyah 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here