Pandemi Covid-19 telah memengaruhi tiap-tiap sendi kehidupan. Kemelut yang diakibatkan pandemi memberikan efek domino terhadap aktivitas masyarakat, tak terkecuali kader-kader IMM. Muhammad Rifqi Ismulail berpendapat bahwa dengan adanya “serangan” Covid-19, IMM mengalami syok intelektual; yang mana kader IMM mengalami degradasi kapasitas dan kualitas intelektual (Ismulail, 2021).

Apa yang disampaikan Ketua Lembaga Kesehatan DPP IMM Periode 2018-2020 perlu menjadi refleksi kita bersama. Apa benar kader-kader IMM mengalami syok intelektual? Atau hanya perlu penyesuaian dengan kondisi dan keadaan?

Pandemi dan Perubahan Tatanan Berorganisasi

Maret 2020 menjadi awal dari perubahan pola kehidupan dan aktifitas masyarakat. Masyarakat dunia, khususnya Indonesia, yang memang tidak siap, mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang serba tidak mudah. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang biasa dilakukan sehari-hari, harus diubah demi memutus penyebaran Virus Covid-19.

Sebagaimana kita pahami bersama, masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah bangsa timur, memiliki kebiasaan salah satunya adalah berkumpul dengan tetangga dan sanak famili. Kebiasaan nongkrong di poskamling, di warung-warung, dsb merupakan aktivitas yang tidak asing bagi kita semua.

Kebiasaan-kebasaan sebagaimana penulis sebutkan sebelumnya, mewarnai kultur kita semua (kader IMM) dalam berorganisasi. Agenda-agenda komisariat hingga dewan pimpinan pusat, biasanya diselenggarakan dengan bertemu (baca: pertemuan), baik formal maupun kultural. Sebut saja diskusi rutin yang biasa diselenggarakan, baik itu pekanan maupun bulanan, biasanya dihelat secara tatap muka dengan jumlah masa yang tidak sedikit. Kegiatan DAD juga termasuk dalam salah satu agenda yang biasa diselenggarakan secara tatap muka dengan intensitas pertemuan yang cukup panjang. Nah, dengan merebaknya Pandemi Covid-19 yang hampir memasuki tahun ketiga ini, menjadikan seluruh aktivitas ber-IMM seakan-akan mandeg tak berbekas.

*

Fenomena berhentinya aktivitas ber-IMM sangat terasa khususnya bagi komisariat/cabang yang kader-kadernya berasal dari luar daerah. Kebijakan PSBB hingga PPKM, menjadikan para kader pulang ke rumahnya masing-masing. Kekosongan sumber daya kader ikatan inilah yang kemudian menjadikan para pimpinan memutar otak untuk mereformulasi aktivitas ber-IMM. Tidak sedikit realisasi program kerja yang sudah diagendakan harus mereka modifikasi sedemikian rupa, agar terus terlaksana sebagai upaya untuk tetap menghadirkan nafas perjuangan ber-IMM.

Kegiatan-kegiatan tatap muka sebagaimana penulis sampaikan di atas, diubah menjadi kegiatan berbasis virtual. Tidak hanya kegiatan yang sifatnya pertemuan fisik, administrasi pun tak luput dari perubahan yang dilakukan oleh para pimpinan. Kegiatan nge-print proposal, surat-surat dan keperluan administrasi lainnya, berganti dengan mengconvert file word ke pdf.

Apa yang dilakukan oleh segenap pimpinan dengan melakukan digitalisasi kegiatan, tidak dipungkiri masih jauh dari kata memenuhi goals dari kegiatan itu sendiri. Namun, mau tidak mau para pimpinan harus melakukan itu; tidak lain dan tidak bukan agar program kerja tetap berjalan dan demi dapur ikatan tetap mengepul.

Stagnasi Aktivisme Perkaderan

Masih ingatkah kita di awal-awal pandemi hadir dan kebijakan stay at home diterapkan? Tidak sedikit acara seminar, diskusi, dan rapat yang diselenggarakan secara virtual. Berbagai macam metode digunakan untuk mencari formulasi yang pas. Mulai dari diskusi menggunakan WA grup, seminar menggunakan Zoom Meeting, kemudian dari Zoom beralih menggunakan Google Meet karena dinilai lebih sedikit memakan kuota internet. Ada juga beberapa pimpinan yang mengagendakan live Instagram secara rutin. Fase ini masih berlanjut dengan metode-metode lain seperti podcast, dan lain sebagainya.

Mungkin ketika awal pandemi, dan kita melakukan berbagai aktivitas pertemuan/kegiatan virtual secara masif dan rutin, kita masih nyaman-nyaman saja. Namun setelah setahun, bahkan ketika baru setengah tahun aktivitas virtual berjalan, sudah banyak di antara kita dan kader yang mulai bosan. Tidak sedikit pula yang mengeluh soal keterbatasan perangkat, akses internet, bahkan kuota. Kebosanan tersebut yang kemudian menimbulkan kejenuhan dan berujung pada stagnasi dalam ber-IMM.

Perilaku yang ditunjukan oleh seseorang (dalam hal ini kader) yang mengalami kejenuhan di antaranya, mudah cepat marah, mudah terluka dan mudah frustasi  (Hidayat, 2016). Kejenuhan  dapat mengakibatkan menurunnya konsentrasi dan daya serap dari kegiatan ber-IMM (contoh: diskusi rutin RPK). Karena kejenuhan adalah letak titik buntu dari perasaan dan otak akibat tekanan berkelanjutan. Kader yang sudah mencapai titik jenuh cenderung bersikap sinis dan apatis terhadap kegiatan-kegiatan atau agenda IMM dengan ditunjukkan sikap kurang percaya diri dan menghindarinya serta tidak memahami substansi yang telah diterima  (Arirahmanto, 2018).

*

Burnout (kejenuhan) pada tingkat individu menunjukkan gejala-gejala psikologis, di antaranya pada ranah : affective, cognitive, physical, behavioural, dan motivational  (Enzmann., 1998). Gejala-gejala sebagaimana yang diklasifikasikan oleh Enzmann terlihat dari observasi yang penulis lakukan pada enam komisariat di PC IMM Sukoharjo, di antaranya : PK IMM Pondok Internasional KH Mas Mansur UMS, PK IMM Ma’had Abu Bakar As-Shidiq Putri, PK IMM Abu Thoyib Univet, PK IMM Muhammad Abduh FAI UMS, PK IMM H.M Misbach UIN RMS, dan PK IMM Pondok Hajah Nuriyyah Shobron UMS. Kebanyakan kader mengalami gejala pada ranah behavioural dan motivational.

Contoh nyata terlihat dari keikutsertaan para kader dalam kegiatan-kegiatan daring yang dilakukan enam bulan terakhir. Partisipasi kader cenderung menurun dibandingkan saat awal-awal masa pandemi. Partisipasi yang penulis maksudkan, melingkupi kehadiran maupun keaktifan selama kegiatan. Sebut saja kegiatan Forum Diskusi Kader Sukoharjo (FKS) yang rutin dilaksanakan satu-dua pekan sekali. Di awal masa pandemi, FKS bisa diikuti rata-rata 40 hingga 80 orang peserta, namun sejak 6 bulan terakhir, kehadiran kader dalam FKS hanya pada kisaran rata-rata 20 hingga 30 peserta. Kemudian, penulis berinisiatif untuk menanyai beberapa kader terkait fenomena di atas. Sebagian besar kader mengungkapkan bahwa mereka mulai bosan dengan kegiatan-kegiatan berbasis luring. Alasannya mulai dari keletihan fisik, hilangnya motivasi karena sudah terlalu sering mengikuti webinar, keterbatasan sarana dan prasarana, dan kesibukan lainnya.

Penulis : Muhammad Taufiq Ulinuha (Sekum PC IMM Sukoharjo Periode 2021-2022)

Referensi

Arirahmanto, Sutam Bayu. 2018. Pengembangan Aplikasi Penurunan Kejenuhan Belajar Berbasis Android untuk Siswa SMPN 3 Babat. UNESA Surabaya.
Hidayat, Muhammad Yusuf. 2016. Pengaruh Slow Learner dan Kejenuhan Belajar terhadap Kesulitan Belajar Fisika Siswa MTs Madani Alauddin Kabupaten Gowa. UIN Alauddin Makassar. Vol. 5, No. 2, hal. 332-341.
Kompas.com (26 Mei 2020). Apa Itu New Normal? Presiden Jokowi Sebut Hidup Berdamai dengan Covid-19. Diakses pada tanggal 14 November 2021 dari https://www.kompas.com/sains/read/2020/05/26/163200023/apa-itu-new-normal-presiden-jokowi-sebut-hidup-berdamai-dengan-covid-19?page=all
Gema.uhamka.ac.id (21 Mei 2021). Syok Intelektual di Masa Pandemi Covid 19, IMM Butuh Apa? Diakses pada tanggal 11 November 2021 dari https://gema.uhamka.ac.id/2021/05/21/syok-intelektual-di-masa-pandemi-covid-19-imm-butuh-apa/
Schaufeli dan Enzmann. 1998. The Burnout Companion to Study and Practice: A Critical Analysis. United Kingdom: CRC Press.

 

Master Kalender Muhammadiyah 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here