Pada hari Ahad (27/3/22) menjadi momen peluncuran lembaga otonom baru bernama Madrasah Al-Falasifah yang menjadi bukti tegas IMM Komisariat Tamaddun FAI untuk terus mengembangkan keilmuan kader-kader se-Jatim sebagai bukti konsistensinya dalam pengamalan TRIKODA yang tercantum dalam tanfidz yaitu INTELEKTUALITAS. Filsafat yang menjadi induk dari segala macam disiplin ilmu menjadi konsen utama dalam proses pengembangan tersebut; sehingga hal itu mencerminkan nama “Falsafah” yang bermakna filsafat dalam bahasa arab.

Melihat krisis daya pikir; yang berujung pada krisis identitas yang para kader IMM miliki saat ini; dalam memahami beragam permasalahan; sehingga menimbulkan keputusan-keputusan yang ambigu dalam pergerakannya; bahkan na’udzubillah bertolak belakang dengan koridor yang sudah ditetapkan dalam tanfidz. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa IMM adalah representatif dari Muhammadiyah itu sendiri dalam lingkup mahasiswa; maka alur pergerakannya pun harus berkiblat kepada hal tersebut.

***

Tidak hanya itu; terkadang keputusan itu mendapatkan hasil berdasarkan dari buah ego masing-masing; demi beragam kepentingan tanpa ada sangkut pautnya dengan kepentingan ikatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut; membutuhkan daya berpikir kritis para kader; dalam mengobservasi dan menilai suatu permasalahan yang menghasilkan buah pikir murni; sehingga para kader mampu berpikir lebih luas dan mendalam saat mengidentifikasi persoalan yang terjadi; baik dalam lingkup ikatan maupun ketika mengimplementasikannya di masyarakat.

Purifikasi dan rekonstruksi berpikir; akan menjadi kunci dalam proses kontemplasi berkelanjutan yang akan dialami ke depannya nanti.

Zaman dewasa ini, di tengah gempuran arus globalisasi yang kian deras menghantam; menuntut para kader agar adaptif serta dinamis dalam bergerak; akan tetapi tidak lupa akan identitas yang dimiliki. Melihat itu Madrasah Al-Falasifah hadir untuk menaungi para kader dalam berpikir kritis tanpa takut menyuarakan buah pikirnya dalam bergerak demi kemaslahatan umatnya.

***

Seperti sungai pohon yang mengalir dalam jaringan sel-sel pohon yang tak terlihat; tetapi menjadi inti dari pohon itu sendiri; harapannya para alumninya menjadi sosok yang berkarakter kokoh dalam berpikir; tegas dalam berpendirian; dan lemah lembut dalam bertindak. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan dalam kehidupannya untuk selalu mengasihi kepada siapa pun bahkan kepada musuh-musuhnya. Spirit profetik yang harus selalu dijaga pun; tidak luput menyertai sehingga tidak peduli kapan pun dan dimana pun; segala tindak tanduknya menjadi uswah hasanah bagi kawan maupun lawan.

Tidak hanya menjadi tempat bernaung; akan tetapi menjadi ujung tombak nalar kritis akademika dalam mengembangkan potensi hingga ke akar-akarnya; dan mencapai hasil yang maksimal. Sehingga akan muncul sebuah pemikiran kritis yang sesuai dialektika zaman dan menimbulkan kesadaran-kesadaran yang di mana manusia itu pada hakikatnya adalah makhluk sosial yang artinya membutuhkan bantuan orang lain.

Banyak kader-kader yang hilang akan kesadaran mereka sendiri maka dari itu kader harus mempunyai daya pikir kritis yang akan membangun sebuah kesadaran. Membangun konstruksi kesadaran manusia adalah suatu identitas dari Madrasah Al-Falasifah yang akan menjadi suatu tempat proses para kader.

Madrasah Al-Falasifah juga menanamkan sebuah nilai profetik; nilai-nilai profetik mencangkup 3 hal yaitu humanisasi (sosial); liberasi (perilaku); dan transendensi (hati nurani); yang mana nilai-nilai profetik ini akan dipakai di kehidupan sehari-hari manusia; yang merupakan ajaran yang konkret; dan harus diimplementasikan oleh para kader di kampus maupun di luar kampus. Dengan menanamkan sebuah nilai-nilai profetik itu; akan mengantarkan kader-kader; dengan potensi kader-kader miliki; akan menjadi insan-insan yang beriman; bertakwa; dan berakhlak mulia. Sehingga kader mempunyai persiapan untuk kehidupan di dunia dan di akhirat.

***

Sama seperti halnya otot, otot juga harus perlu dilatih agar tetap sehat dan prima. Dengan latihan yang tepat; kader bisa mengasah logika berpikir agar ketika kader mendapatkan suatu masalah mereka dapat memahami masalah secara runtut memberikan solusi yang tepat. Dengan menerapkan pola sistematis dan terstruktur dalam kemampuan membongkar masalah.

Kader dapat membangun kepekaan terhadap lingkungan zaman; yang di mana eksistensi lebih utama dari pada esensi. Sebenarnya esensi akan melahirkan sebuah eksistensi. Karena esensi ibarat panggung yang telah disediakan; yang mau tak mau manusia harus berada di atasnya; karena hanya itu satu-satunya panggung yang disediakan bagi kehidupan manusia.

Filsafat sendiri dapat kita peroleh melalui pemikiran rasional yang berdasarkan pada pemahaman; spekulasi; penilaian kritis; dan penafsiran. Dan filsafat itu sendiri lebih menekankan kepada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau biasanya ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigit; filsafat membahas hal yang luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan reflektif dan kritis; sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali.

***

Seiring berkembangnya zaman, banyak yang berpendapat kalau filsafat itu sesat; filsafat itu rumit; dan susah untuk di pahami. Buktinya orang-orang yang bergelut dengan filsafat; kerap mengutarakan kata-kata dan teori yang sebagian besar orang sulit mengerti. Sebenarnya bukan gagasan filsafatnya; melainan cara penyampaian orangnya.

Kalaupun filsafat itu sesat, untuk membuktikan kesesatannya kita harus berfilsafat. Untuk membuktikan kesesatan filsafat kita harus mempunyai argument. Dan ketika argument itu sebetulnya, sadar atau tidak, kita sedang berfilsafat untuk menyesatkan filsafat. Orang yang memandang filsafat sebagai ilmu yang sesat pada umumnya tidak bisa membedakan antara filsafat sebagai sebuah ilmu; dengan filsafat sebagai sebuah produksi pemikiran; padahal itu dua hal yang berbeda.

Pada dasarnya sebagai sebuah ilmu, filsafat bertujuan positif. Menuntun manusia untuk berpikir dengan benar; mencari kebenaran; dan mencintai kebijaksanaan. Yang sering melahirkan gagasan gagasan yang menimpang itu sebenarnya bukan dari filsafatnya, melainkan kita kembali kepada kesalahan cara orang yang menggunakanya.

Karena filsafat hanyalah alat; dengan alat itu bisa jadi orang yang benar dan beriman; dan dengan alat itu pula bisa menjadi orang sesat bahkan mengingkari keberadaan Tuhan. Jadi, Madrasah Al-Falasifah menyediakan wadah dan tempat para kader untuk mempelajari ilmu filsafat itu sendiri. Agar pada nantinya setiap kader memahami secara mendalam tentang filsafat.

Penulis : Ma’rifat (PK IMM Tamaddun FAI UMMalang)
Editor : Nadhif (LPMTI)

 

Master Kalender Muhammadiyah 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here