Pada kenyataannya; pembahasan Seni Budaya dan pengetahuan lokal di dalam tubuh IMM sangatlah sempit, bahkan hampir terjadi distorsi pemaknaan, terlebih pada pembahasan pengetahuan lokal. Budaya lokal; bahkan seni yang sifatnya indah hampir jarang  kita jumpai, sebab yang demikian itu dianggap sebagai musuh besar yang akan menurunkan sensitivitas membaca buku, berdiskusi dan lain sebagainya. Mungkin penulis saja yang belum merasakan bagaimana sensasinya membaca buku itu; sampai kemudian tetap memilih untuk berkesenian; memahami kebudayaan lokal sebagai salahsatu basis pengetahuan.  Seni Budaya dan bahkan sastra sekalipun hanya dianggap sebagai hal-hal yang teoritis yang dalam prakteknya; tak perlu ada pengejawantahan darinya ke dalam kehidupan berorganisasi (Ber-IMM).

Kalau boleh saya mengajak teman-teman pembaca yang budiman untuk berselancar dalam dunia pengetahuan lokal, begitu banyak produk yang tercipta darinya, tidak terkecuali produk-produk tulisan yang menunjang intelektual pembaca. Di Tanah Jawa; ada Pak Dr. Islah Gusmian M.Ag; yang menuliskan satu buku dengan Judul “Mitigasi Bencana dan Kearifan Manusia Jawa”; karya yang sangat luar biasa yang mampu membuka wawasan dan pikiran pembaca bahwa tidak selamanya hasil produk pengetahuan lokal itu merugikan dan berbau kesyirikan. Di Tanah Kaili; Sulawesi Tengah ada sosok Ulama Karismatik; Pue Lasadindi; yang membuat satu metode pengajaran Al-Qur’an Berbasis pengetahuan Lokal berupa Aksara yang diberi nama Aksara Panggare Ntonji. Metode itu dibuat untuk mempermudah Masyarakat lokal memahami Al-Qur’an. Di sampung itu; tujuan yang lain adalah untuk mengelabui pemerintah kolonial belanda pada saat itu, karena sejatinya, penjajah itu tidak menginginkan masyarakat pribumi  tercerahkan.

BACA JUGA : Resiliensi Organisasi dan Nafas Perkaderan IMM (Bagian 2)

Instruktur : Kami harus ngapain?

Sukoharjo,yang hari lahirnya ditetapkan pada tangal 15 Juli 1946; juga merupakan salah satu wilayah karesiden surakarta, dalam penyebutan populer adalah Wilayah Solo Raya. Yang terbesit dalam benak setiap orang ketika mendengar nama Solo yang pertama adalah budaya. Sama halnya dengan saya, yang membayangkan bertapa uniknya IMM yang ada di Wilayah ini yang pemikirannya sudah tergradasi dengan pemikiran seni budaya dan pengetahuan lokal setempat, ternayata tidak demikian, atau mungkin belum. Sebagai salah satu organisasi pergerakan mahasiswa, dalam pandangan saya, IMM harus mengambil peran, peran yang dimaksudkan bukan untuk memanjat atau menembus tembok pemerintah yang mungkin dalam bahasa kasarnya menjilat dengan ikut mempromosikan identitas budaya itu. Namun, lebih daripada itu, potensi untuk mengembangkan kualitas kader dalam persoalan budaya dan pengetahuan lokal sangatlah besar. Bukan tidak mungkin lagi, barang tentu di Solo itu menyimpan banyak budayawan, sastrawan yang bisa diambil ilmunya, tentunya dalam bentuk forum-forum perkaderan.

Lalu bagaimana IMM turut ikut mengambil Momen ini terkhusus instrukur yang sudah disiapkan untuk menjadi instrumen perkaderan yang dituntut multidisiplin ilmu. Sebab semua jenis perkaderan dikelola oleh mereka. IMM punya bidang Seni Budaya dan Olahraga; yang itu penulis rasa sebagai salah satu ikhtiar untuk mewujudkan serta membebaskan kekakuan berpikir kita sebagai kader Religiusitas; Humanitas dan Intelekualitas. Namun; sudah hampir tiga tahun lamanya, penulis pribadi belum menemukan wujud dari ekspresi seni budaya berbasis pengetahuan lokal ada dalam tubuh IMM Sukoharjo. Memang, kemana dan dimana pun kader IMM Sukoharjo, pasti yang dikenal itu adalah taring panjangnya ketika berdiskusi, logika berpikir yang terstruktur dibumbuhi oleh argumentasi-argumentasi Filsuf, itu sudah mengkonstruk pemikiran orang-orang. Bukan untuk merekonstruksi apa yang telah ada, tapi, tidakkah sedikit kita membuka ruang untuk Pengetahuan lokal dan Seni Budaya, sebab kader tak semuanya mau diajak untuk mengonsumsi teori-teori yang dikemas dengan bahasa berimbuhan tas tis tas tis (baca : bahasa ilmiah).

***

Perkaderan Berbasis Budaya dan Pengatahuan Lokal

Sepertinya perlu dicoba untuk membuat satu perkaderan Formal berbasis Pengetahuan lokal dan Seni Budaya. Tidak hanya berhenti pada pemberian teori. Namun; berlanjut sampai pada persoalan prakteknya, paling tidak melahirkan satu lembaga kesenian yang diampuh oleh seniman, budayawan atau bahkan sastrawan yang ada di Sukoharjo dengan tujuan untuk menciptakan kader seniman. Lebih dari pada itu, untuk  menjadikan kader-kader yang paham akan kondisi historis tempat dimana ia tinggal.  Sebagai seorang instrukur, sudah seharusnya membaca potensi-potensi apa yang harus dikembangkan. Instruktur dilatih dalam satu forum bergengsi, LID, yang di dalamnya diajarkan bagaiamana menjadi seorang observer dan menyusun model perkaderan, melihat kebutuhan apa yang harus sekiranya dikembangan baik dari pra perkaderan sampai pada pasca perkaderan. Bukan hanya duduk manis di bangku paling belakang, menopang dagu dengan tangan, lalu mencatat kader-kader yang bertanya. Saya rasa tugas instruktur tidak sesantai itu. Kalau boleh memberikan saran untuk kakak-kakak instrukur; entah diterima atau tidak, coba lah sesekali buat model perkaderan DAD berbasis pengetahuan lokal dan Seni Budaya. Tarulah jatuhnya pada pemikiran, maka suguhkan lah pemikiran-pemikiran ulama lokal, atau bahkan seniman dan budayawan lokal. Mungkin terkesan aneh; bagaimana mungkin IMM yang ganas dengan argumennya, disuguhkan dengan hal-hal yang selentur itu.

Tak cukup hanya mengulik peran instruktur sebagai instrumen perkaderan; sudah menjadi keharusan semua pihak yang ada di IMM terlebih pada bidang yang bersangkutan; Bidang Seni Budaya dan Olahraga. Banyak yang perlu digarap, banyak yang perlu disentuh dan banyak yang perlu kita konsumsi. Dengan hadirnya kader-kader seniman, budayawan atau bahkan sastrawan, IMM akan lebih lentur dalam memandang realitas yang ada di Masyaratakat. Sebab satu dari enam penegasan IMM adalah menegaskan bahwa amal IMM adalah Lillahi Taala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat. Maka untuk mengabdikan diri kepada rakayat, pahamilah rakyat dan budayanya.

Penulis : Rahmat Balaroa (Kader IMM Sukoharjo)

Master Kalender Muhammadiyah 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here